Beberapa Kejadian Menarik Saat Aku TK – Masih Kecil Udah Ngilangin Mbak Mbak!

Aku yakin kalau sebagian besar orang di Indonesia ini pasti pernah merasakan yang namanya TK. Kalian yang lagi baca ini juga pernah hidup di TK kan? Yakan? Kalau belum pernah jangan baca! Masuk TK dulu sana! (ehh.. gak kok bercanda hehe..).

Entah kenapa dinamakan Taman Kanak-Kanak (TKK dong harusnya?), padahal bentuknya kebanyakan seperti sekolah pada umumnya untuk tempat belajar, ya meskipun ada tamannya tapi itu cuma sebagian kecil, ya gak sih? (iya iya maaf deh kalau salah jangan dimarahin).

Nah, kenapa aku bahas TK panjang lebar kali tinggi sama dengan luas sampai dua paragraf gitu? Ya karena kali ini aku mau nyeritain beberapa part yang bisa ditiru saat aku hidup di TK (jiahh.. gaya amat TK aja pake part-partan).

Pertama masuk TK

gambar rumah mewah putih dengan frame dan sudut pandang kamera tersembunyi
Photo by Matt Jones on Unsplash

Waktu aku kecil, aku hidup dan tinggal dalam keluarga yang kedua orang tuaku lumayan sibuk bekerja. Walau begitu, mereka tetap memberi perhatian kepada anak-anaknya. Sejak lahir, aku tinggal di kota terbesar di Indonesia, kota mertopolitan yang kita semua tau, sebelahnya maksudnya hehe, Tangerang tepatnya.

Namun, belum usai masa kecilku, aku pindah bersama keluargaku ke kota Semarang. Saat itu aku belum bersekolah dan masih sangat kecil, kira-kira umurku masih 2 tahun (ya kalik 2 tahun sekolah jenius apa yak).

Setelah sekitar 4 tahunan, aku mendaftar ke salah satu TK di daerah yang lumayan dekat dengan rumah, walaupun masih terbilang memakan waktu dan tenaga sih kalau jalan kaki menuju kesana.

Hari-hari pertama sekolah aku diantar oleh orang tuaku. Karena belum terbiasa ditinggal, kan itu awal banget tuh aku sekolah, aku juga ga pernah masuk yang namanya playgroup. Sesampainya di depan sekolah aku langsung nangis dan gak mau masuk ke dalam sekolah, ya namanya awal-awal mungkin shock gitu kan ya wkwk.

Kejadian itu berulang beberapa hari saat-saat pertama aku masuk sekolah. Bayangin tiap hari butuh waktu bermenit-menit buat nenangin anak kecil dan ngeyakinin biar mau masuk. Ngeselin gak sih gitu? Gak lah ya namanya juga anak kecil (hihi..).

Hari-hari yang melelahkan itu akhirnya berakhir. Aku sudah terbiasa datang ke sekolah dan aku juga sudah mengenal teman-teman di TKku. Kenapa tadi aku sebut hari yang melelahkan? Karena aku juga lelah harus nangis tiap kali mau masuk sekolah haha.., capek tapi tetep dilakuin? (wuuu.. dasar..).

Nyasarin anak orang

gambar kartun vektor labirin putih dengan orang tersesat ditengah labirin
Photo by Svilen Milev On Freeimages

Jadi, beberapa waktu setelah itu keluargaku mengangkat seseorang untuk menjadi asisten rumah tangga. Karena aku sudah terbiasa dengan yang namanya Sekolah itu (serem amat ya keknya harus terbiasa segala). Ibuku memberi instruksi kepada asistennya untuk menjemputku di sekolah.

Waktu itu kayaknya aku gak terlalu suka dengan orangnya, karena mungkin belum terbiasa bersama aja sih (eciee..). Entah kejadiannya dihari pertama dijemput atau udah yang ke sekian kali, yang pasti aku ingat bahwa asisten rumah tangganya ibuku itu (sebut aja namanya Wijen lah ya biar gampang), dia gak hafal jalan menuju ke rumah (nih aku jelasin dijemputnya jalan bukan naik ojek).

Kejadiannya gini nih, hari itu setelah waktu belajarku di sekolah berakhir, udah pulang lah intinya, si Wijen ini nungguin di depan sekolah. Sampai akhirnya aku keluar dan bertemu Wijen, dan kita jalan bareng ke rumah.

Ditengah perjalanan, padahal nih udah mau sampai ke rumah, tinggal satu belokan lagi dan gak ada setengah kilo mungkin. Aku suruh si Wijen ini pulang lewat jalan yang berbeda, “Aku lewat sini, mbak lewat sana ya.” gitu kataku. Saat itu memang ada banyak gang yang bisa menjadi alternatif untuk dilewati jika ingin ke rumah.

Sebenernya waktu itu aku gak mikir apa-apa dan gak ada niat mau nyesatin atau jahatin atau gimana. Ya namanya anak kecil, yang aku pikir saat itu aku mau pulang sendiri aja soalnya gak suka sama Wijen.

Sesampainya di rumah, kebetulan ibuku juga lagi ada di rumah nih, dan aku pulang sendiri kan masuk rumah sendiri gitu. Otomatis ibuku bingung dong, kok pulangnya sendiri kan tadi dijemput. Akhirnya aku bilang sama ibuku kalau tadi aku suruh si Wijen ini pulang lewat jalan yang lain.

Ibuku langsung panik nih, waahh nanti kalau gak tau jalannya gimana? Tapi ya udah kan udah terlanjur jadi ditunggu aja katanya. Aku juga gak mikir dia bakal tersesat kalau lewat jalan yang lain (yang beda sama aku) soalnya kan jalan ke sekolah buat jemput aku aja bisa masa baliknya gak bisa?

Setelah beberapa menit ditunggu, si Wijen ini tetap tak kunjung datang. Sampai akhirnya ibuku menelpon seseorang, tapi aku lupa yang ditelpon siapa (Wijen atau orang lain). Selang berapa waktu dia akhirnya pulang, dan benar dia tersesat lalu tanya orang katanya. Duhh yang salah siapa nih?

Aku yang menghilang

gambar puzzle putih yang hilang satu
Photo by Pexels

Sejak saat itu, aku selalu diantar dan dijemput oleh asisten rumah tangga milik ibuku, walaupun mereka berganti-ganti (bukan Wijen aja, tapi yang beruntung cuma Wijen). Begitu terus tak ada yang berubah.

Tapi akhirnya datanglah satu hari yang spesial. Dihari itu seorang temanku (namanya Bella) berkata kepadaku bahwa dia mau main ke rumah Rara dan mengajakku untuk ikut ke sana juga. Kebetulan rumah mereka dekat dengan sekolah dan rumahku.

Tanpa pikir panjang, setujulah aku untuk main ke sana hari itu setelah pulang dari sekolah. Kami menuju ke rumah Rara dengan berjalan kaki. Sesampainya di sana, kami bermain seperti biasa, seperti anak pada umumnya.

Nah, si mbak asisten rumah tangga yang biasa jemput aku, hari itu juga datang ke sekolah untuk menjemputku. Mungkin hari itu dia nungguin aku lama banget dan bingung karena aku gak keluar-keluar. Wajar karena aku gak bilang saat itu mau main.

Balik lagi ke suasana di rumah temanku nih. Beberapa menit berlalu, aku pun sudah cukup puas bermain. Tiba-tiba telepon rumah temanku berdering, yang ternyata itu adalah panggilan dari sekolah. Dan mereka menanyakanku!

Ternyata selama aku main di rumah temanku, ibuku mencariku ke sekolah karena aku tidak ijin dan memang gak bisa ijin karena gak ada hp, saat itu juga aku gak berpikir untuk ijin karena dekat dan mainnya cuma sebentar.

Akhirnya setelah bapaknya Rara menerima telepon, aku dijemput orang tuaku dan pulang ke rumah. Pasti penasaran kan apa reaksi dari orang tuaku? Tenang, gak dimarahin kok, justru guruku yang marahin aku karena main gak bilang, dan melarangku untuk pergi main lagi (biar gak repot kalik ya). Padahal ibuku cuma bilang lain kali kalau mau main bilang dulu.

Pindah antar jemput gara-gara omongan orang

gambar boneka burung berwarna biru muda / baby blue dari kain flanel
Photo by Ingrid Dietrich On Pexels

Suatu hari ibuku melihat ada mobil antar jemput yang sepertinya dari sekolahku lewat depan rumah. Lalu ibuku berpikir dan menawariku untuk ikut mobil antar jemput aja, dari pada capek kan jalan terus, kasian juga asisten rumah tangganya dari pada ntar aku sasarin lagi.

Aku manut aja kan, akhirnya besoknya aku mulai naik antar jemput. Beberapa hari berlalu dengan pulang naik antar jemput, mulus-mulus aja gak ada masalah. Sampai saat ada seorang mbak-mbak yang ikut naik ke dalam mobil antar jemput yang sama denganku dan langsung duduk di sebelahku.

Beberapa saat setelah duduk, ia nengok dan melihat ke arahku kemudian berkata “Mirip boneka ya.” waaahh apaan nih maksudnya? Aku merasa gak terima loh waktu itu entah kenapa (haha..).

Sesampainya aku di rumah, aku langsung meminta ibuku untuk pindah antar jemput. Ibuku bingung, itu kan pujian? Mungkin aku kira miripnya sama boneka beruang. Ya sudah akhirnya aku pindah mobil antar jemput walaupun agak sulit karena cuma itu mobil yang jurusannya ke arah rumahku.

Yakk itulah beberapa part yang bisa kalian ajarkan ke anak-anak kalian dan bisa jadi contoh, ya gak? Haha. Jangan deh jangan, nanti diajarin kek gitu beneran lagi. Baaanndelnyaaa kok bukan main.. Eh ga banget kan ya? Masih wajar lah ya.. karna sesungguhnya aku melakukan semua itu tanpa ada maksud dan niat, bener-bener gak ada maksud apa-apa, maksud baik juga nggak.

Semoga terhibur deh kalian yang sabar baca ketikan saya yang hanya seluas ujung jari ini. Tapi plis tolong (udah “please”, “tolong” lagi.. maunya apa coba) jangan dijadiin teladan deh! Nanti nyesel, percayalah.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *