Pentingkah Memperdalam Pemahaman Bisnis?

Sebenarnya ini adalah lanjutan dari post pertama saya tentang pengalaman berbisnis saat aku dibangku Sekolah Dasar. Udah baca belum? Kalau belum baca dulu! Karena ibarat film, ini adalah part duanya. Coba kalian nonton film part dua tapi belum nonton yang part satu, gimana? Gak seru kan? (hehe.. bilang aja biar pada nyari post sebelumnya).

Kalian ga perlu cari postnya kok tinggal klik ini aja nih. Tapi kalau kalian malas bacanya gak apa-apa kok, ceritanya juga gak kayak film banget kok, yang kalau gak nonton part satu kalian bakal gak mudeng sama ceritanya.

Berdasarkan judul di atas, menurut kalian penting gak sih memperdalam bisnis itu? Mungkin sebagian orang belum paham tentang pentingnya belajar bisnis atau tau tapi malas buat belajar bisnis. Alasannya ya macam-macam lah, maklum manusia banyak alasan.

Oke deh dari pada kebanyakan basa basi langsung aja berangkat ke ceritanya, nanti malah pada bosen, ngambek, gak jadi baca, pergi ke lain hati, kan jadi sedih hamba.

Kita flashback dulu yuk

foto kaca spion, terlihat jembatan dan lampu jalan saat senja
Photo by PJOsorio On Pixabay

Jadi kemarin kan aku cerita tentang perjalanan bisnisku saat kelas 2 dan 4 SD. Sebenarnya itu belum bisa dikatakan bisnis juga sih, hanya sekedar berjualan biasa tanpa metode.

Anehnya saat aku kelas dua dan empat ini, saat aku lagi senang-senangnya jualan, gak ada satu pun temanku yang mengikuti. Ya cuma aku aja yang jualan. Memang mungkin masih kecil sih, dan orang tua mereka yang rata-rata kaya.

Mungkin itu juga yang membuat guruku melarangku untuk berjualan di sekolah. Karena aku masih kecil, dan belum waktunya cari uang? But, I don’t know. That‘s too complicated for me (terjemahan ada dibawah ini).

Tapi saat aku duduk dibangku kelas enam, ada banyak temanku yang berjualan di sekolah. Bagaimana denganku? Entah kenapa rasanya sudah malas, sampai sekarang aku juga masih berpikir kenapa saat itu aku gak ikut jualan aja (hehe..).

Mungkin karena bingung mau jualan apa, kan tadinya aku jualan juga gak ada niat alias asal ceplos aja haha.

Masuk sekolah bisnis

foto buku bertumpuk dengan apel diatasnya, pensil warna warni disampingnya dan balok a b c bertumpuk, balok mainan anak tk dan playgroup
Photo by Element5 Digital on Unsplash

Sejak SD, aku berkeinginan untuk melanjutkan jenjang sekolahku di sekolah negeri. Itu juga karena faktor kakakku yang bersekolah di sana (namanya adik biasa kan meniru kakaknya).

Namun orang tuaku tak memperbolehkanku untuk mendaftar dan belajar di SMP Negeri favorit seperti kakakku, dan menyuruhku untuk masuk ke sekolah alam, sekaligus sekolah islam, sekaligus sekolah bisnis.

Aku lalu menuruti kemauan orang tuaku dan akhirnya bersekolah di sana. Hari pertama masuk sekolah, hmm asik juga, sekolahnya tak terlalu banyak aturan yang biasanya ada di sekolah formal pada umumnya. Bajunya pun kami pakai baju bebas, tak bersepatu pun tak apa.

Sayangnya murid yang bersekolah di sana terlalu sedikit menurutku, kami juga seperti tak merasakan punya yang namanya kakak kelas, semua sama, semua kenal. Loh bukannya itu seru? Mungkin iya, tapi mungkin juga aku gak terbiasa dengan suasana sekolah yang tak biasa itu. Namun, yahh jalani aja dulu, pikirku.

Hari demi hariku berlalu untuk belajar di sana. Aku merasa pelajaran bisnis dan agama di sana lebih diutamanakan dibanding pelajaran formal seperti : matematika, bahasa, biologi, sejarah, dan lainnya.

Oh iya, aku juga akan ceritakan bagaimana kegiatanku di sana, bagaimana uniknya sekolahku ini.

Olahraga yang gak itu-itu aja

gambar orang sedang olahraga extreme, olahraga selancar air dengan parasut
Photo by APG Graphics On Pexels

Yang pertama dari segi olahraganya. Seperti yang aku bilang tadi, sekolahku adalah sekolah alam. Apa sih sekolah alam itu? Dari namanya aja udah “alam”, ya harus menyatu dengan alam dong.

Tapi, jangan berpikir menyatu dengan alam itu berarti kita berubah jadi tumbuh-tumbuhan loh! Hehe.. bisa aja kan kalian yang terlalu liar pikirannya sampai membayangkan jadi tumbuhan.

Jadi, kegiatan olahraga di sana itu pastinya tak jauh dari alam. Diawal-awal kami masuk, guru olahraga kami langsung mengajak kami ke atas tebing. Bisa tebak dong materi hari itu apa? Yapp, turun tebing!

Waahh.. serunya.. Kami diajarkan bagaimana cara mengikat tali untuk turun tebing, yang bisa juga berguna untuk menyelamatkan diri dari kebakaran atau bencana ketika di dalam gedung tinggi. Kan biasanya sama petugas pemadamnya cuma dikasih tali dan peralatan untuk turun tuh, jadi gak repot kalau kita bisa pakainya, katanya sih gitu.

Selanjutnya adalah jalan-jalan ke sungai. Oh iya, turun tebing itu gak sekali doang loh, dihari setelahnya juga ada turun gedung. Ada yang takut? Pasti dong, tapi akhirnya kami semua bisa melakukannya kok, karena ya emang udah konsekuensinya pilih sekolah alam haha.

Sayangnya cuma ada turun tebing gak ada kegiatan naik tebing, naiknya gunung, itu pun masuk ekstrakulikuler bukan pelajaran olahraga biasa.

Balik lagi nih lanjutin jalan-jalan di sungainya, duh kasian dicuekin, nangis deh tuh. Nah, sebenernya gak ada yang bisa dijelasin sih, soalnya ya yang namanya jalan di sungai ya gitu-gitu aja. Itu juga pertama kalinya aku ke sungai, jadi mulai saat itu berenangnya di sungai nih bukan kolam renang lagi, udah jadi anak sungai (jadi air mengalir dong?).

Bisnisnya yang bikin beda

gambar kacang olong dengan kulitnya dengan satu warna yang berbeda, perbedaan warna kacang
Photo by Magnascan On Pixabay

Lanjut nih, karena ini adalah sekolah bisnis seperti yang aku singgung tadi. Pelajaran utama di sana ya bisnis. Untuk siswa kelas satu yang baru masuk, kami diarahkan untuk berbisnis jamur tiram. Nah nanti kalau udah naik kelas baru bisa milih tuh mau belajar bisnis apa.

Untuk pilihannya sendiri ada bisnis kuliner, desain, ternak lele, dan sablon. Sebenarnya saat akan naik dari kelas satu, guru kami menambahkan bisnis cacing tanah untuk kami, tapi kami belum belajar sampai ke produksinya, masih diternakkan karena waktunya gak cukup.

Materi bisnis yang diajarkan pada kami tentang jamur tiram yaitu mulai dari produksinya. Bagaimana cara membuat baglog jamur tiram. Kemudian bagaimana merawatnya agar jamur tumbuh dengan subur.

Setelah itu, kami juga diajarkan mengenai struktur organisasi dalam bisnis (udah kayak perusahaan besar aja ya hehe..). Ada dari yang tertinggi yaitu direktur, yang posisinya dipegang oleh mentor kami. Kemudian posisi tertinggi yang kami pegang adalah manager, lalu ada wakil manager, managemen, produksi, pemasaran, dll.

Untuk pemasarannya, kami masih melakukannya secara manual (bukan online maksudnya). Kami memasarkan produk kami dengan sistem door to door. Produk yang dipasarkan berupa jamur tiram mentah dan olahan.

Jamur tiram mentah

gambar foto jamur tiram mentah
Photo by szjeno09190 On Pixabay

Biasanya kami menjual mentahan ini dengan plastik yang dipress dan diisi 2 ons tiap plastiknya. Jamur tiram segar yang baru dipetik kemudian dipilih lalu dibersihkan dari kotoran dan tangkainya. Setelah itu baru masuk ke tahap pengemasan.

Jamur tiram olahan

foto olahan jamur, memasak jamur dengan wajan penggorengan, oseng jamur
Photo by StockSnap On Pixabay

Kalau yang ini harus melewati proses memasak. Biasanya kami mengolahnya menjadi sate jamur, jamur crispy, bakso, nugget, dan lumpia. Ini juga dijualnya pas ada bazar aja atau dititipkan ke kantin / warung.

Yahh intinya berkat sekolah di sana pengetahuan tentang bisnisku bisa bertambah. Walaupun aku hanya bersekolah di sana selama setahun (gak usah tanya kenapa lah ya). Udah kayak promosi sekolah aja nih. Tapi gak ada niat buat promosi sih, cuma mau bagi pengalaman aja selagi bisa hehe.

Dan, memperdalam maupun belajar bisnis itu penting mate. Itu adalah ilmu mahal yang harus dimiliki semua orang, wajib hukumnya! Karena tenaga kita kan terbatas tuh, gak bisa dong kita terus mengandalkan tenaga dan pikiran kita untuk selalu bekerja dengan orang lain. Itu menurut pendapatku aja sih, gimana menurut kalian?

Segitu dulu deh bagi-bagi pengalaman hari ini. Aku akhiri dulu yaa, besok lagi, hamba lelah, byeee jangan kangen hehe..

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *