Bisnis Itu Mudah, Serius!

Yang namanya hidup tu ya kadang susah kadang seneng, kadang di atas (lantai 2) kadang juga di bawah. Intinya semulus mulusnya hidup lu tetep aja gak bakal bisa ngalahin mulusnya kulit bayi. Sama halnya seperti bisnis, kita bakal menghadapi kenyataan yang gak sesuai dengan ekspektasi / bayangan kita, harusnya jadi A kok malah larinya ke V, nah loh jauh banget kan? Tapi.. ada tapinya nih, kita bakal ngerasain kalau semua itu mudah untuk dilalui, banget malah! Bisa? Bisa dong! Gak percaya? Aku buktiin! Ini nih cerita pengalamanku. Yuk cuss langsung aja..

Awal nyoba jualan

gambar pasar / jalanan pasar tempat orang berjualan tas, aksesoris, pakaian
Photo by TheUjulala On Pixabay

Bermula saat aku duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya dikelas 2 SD. Sebenarnya gak ada yang istimewa sih dengan masa kecilku saat itu. Yaa namanya anak-anak, kerjaannya paling main, ke sekolah, belajar, makan, tidur, main lagi, ke sekolah lagi, gitu aja terus sampai gajah bertelur (ehehe..).

Hari-hariku berjalan seperti anak pada umumnya, tapi aku merasa sedikit ada yang berbeda juga (dikit doang sih ya..). Yaahh gak seru dong? Ya gak lah, ini bakal seru kok, insyaallah. Karena sesuatu yang berlebihan itu ga baik yakan yakan? (iyain aja deh.. hihi..) jadi dikit-dikit aja dulu siapa tau nyaman (loh..?).

Jadi, suatu malam aku diajak oleh keluargaku pergi ke salah satu toko buku yang ada di pusat kota Semarang. Saat itu nenekku menjanjikan akan membelikan dua buku yang aku ingin. Sebuah buku sudah terpilih, nah tinggal satu lagi nih, tapi aku bingung mau beli buku apa.

Akhirnya setelah lama memutari toko, aku menemukan buku yang covernya lucu dan aku tau itu adalah buku cara membuat handicraft. Karena aku terlalu lama mencari dan hari sudah malam (keburu mau pulang gitu), tanpa pikir panjang aku langsung mengambil buku itu.

Sesampainya di rumah, ibuku mengecek buku apa yang aku beli. Ternyata buku yang kepepet dibeli itu adalah buku macam-macam cara membuat berbagai handicraft untuk imlek. Saat itu ibuku langsung mikir, gak kepake dong nanti. Aku yang saat itu masih kecil belum mengerti yang begituan, yang aku tau ya bukunya lucu, prakaryanya juga lucu.

Akhirnya, setelah berdiskusi ibuku memutuskan untuk menukar buku yang sudah dibeli itu, mumpung belum sehari katanya. Kembalilah kami ke toko buku tadi dan mencari buku lain untuk ditukar. Kami kembali ke tempat dimana buku itu berada, karena niatnya memang ingin membeli buku yang serupa. Akhirnya dapet tuh satu buku yang dirasa lebih bermanfaat dan prakaryanya mudah untuk dipraktekkan.

Beberapa hari setelahnya aku mencoba membuat salah satu prakarya yang ada dibuku itu dengan bahan yang ada. Aku tertarik dengan salah satu handicraft dari kertas lipat, simpel namun menarik.

Saat itu aku belum terlalu serius membuatnya, buatnya juga cuma satu, potong kertasnya aja gak pake gunting, jadi ada motif geriginya deh diujungnya. Aku memperhatikan tiap tahapnya dengan seksama kemudian menirunya. Dan taraaaa, beberapa menit kemudian jadilah sebuah karya dari kertas lipat.

gambar foto kertas lipat pop up, kertas timbul bergambar kelinci lucu hitam putih gambar foto kertas lipat pop up, kertas timbul bergambar kelinci lucu hitam putih

Kira-kira kayak gitu tuh bentuknya, cuma dulu gambarnya gak gitu, pake kertas tulis aja ya karena kertas lipatnya gak ada hehe…

Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah dengan menyimpan karya yang sudah kubuat. Aku menjalani aktivitas di sekolah seperti biasa.

Saat waktunya pulang tiba, sambil menunggu jemputan aku berbincang bincang bersama temanku. Kemudian entah aku yang memperlihatkan atau temanku yang mengambilnya langsung dari tasku (agak lupa sih kejadiannya), yang ku ingat saat itu aku hanya asal ceplos saja dan bilang bahwa aku menjualnya seharga seribu.

Tak disangka-sangka ternyata temanku langsung tertarik dan memesannya satu! Waaahh lumayan kan seribu saat itu untuk anak SD, padahal hanya dibuat dari kertas lipat yang harganya tak seberapa dan membuatnya pun bisa dibilang sangat mudah.

Keesokan harinya aku membawa barang pesanan temanku dan melakukan transaksi di depan kelas. Nah kebetulan teman-teman yang lain juga lagi kumpul di sana. Saat melakukan transaksi otomatis yang lain penasaran dong kepingin tau kami lagi ngapain.

Dan akhirnya aku dapat promosi dari temanku yang pertama beli tadi, dia yang ngejelasin apa yang dia lakukan denganku dan aku hanya menambahkan varian bentuknya kalau ingin pesan dengan model yang lain. Sejak kejadian itu hari demi hariku di sekolah selalu diisi dengan pesanan dari teman-teman. Bisa dibilang hasilnya lumayan untuk tambah uang jajan.

Karena pesanannya lumayan banyak dan saat itu gambarku masih jelek, aku dibantu oleh ibuku dalam membuat gambar dan lainnya. Saat itu rasanya senang bisa menghasilkan uang tanpa modal, karena memang di rumah lagi banyak kertas lipat aja sih. Beberapa hari berlalu seperti biasa, hingga tiba hari dimana tanpa sadar aku melakukan kesalahan.

Akhirnya dapat problem

gambar tanda tanya yang banyak berwarna hitam dan merah
Photo by qimono On Pixabay

Suatu hari aku melakukan transaksi dengan salah satu temanku di depan kelas seperti biasanya. Namun, pas sekali dengan bel masuk yang berbunyi. Kami bergegas masuk kelas dan duduk berkumpul di depan papan tulis.

Saat itu aku sudah memberikan pesanannya namun ia belum membayar. Kemudian tiba-tiba temanku memberikan uangnya kepadaku, dan beruntungnya aku guru yang menjadi wali kelasku melihatnya. Kemudian beliau langsung berbicara dengan keras bahwa tidak boleh berjualan di sekolah apalagi bertransaksi dalam kelas karena mengganggu pelajaran.

Sejak saat itu tidak ada lagi yang pesan daganganku (huhu..) sedih ya? Gak juga sih. Wali kelas yang seharusnya (mungkin) mendukung dengan memberikan arahan, justru melarangku.

Tapi.. gak cuma sampe disitu aja dong, masa gitu doang, udah, terus selesai, tamat, sad ending, nanti penonton kecewa (wuuu…padahal gak tau ada yang nonton apa nggak..haha..).

Lanjut gak nih??? Lanjut ajalah ya…

Sebenarnya setelah itu aku sempat mogok jualan lumayan lama, sampai aku memulainya lagi dengan produk baru yang secara tidak sengaja juga bisa terjual. Jadi gini ceritanya..

Waktu itu aku juga masih SD, tapi udah kelas empat, dengan teman sekelas yang sebagian sama (karena muridnya diacak lagi kalau naik tingkat). Aku punya banyak pensil saat itu, yang entah memang niatnya untuk dijual atau untuk cadanganku saja.

Seperti biasa aku hanya mengatakan bahwa aku menjualnya kepada salah satu orang, yang saat itu kebetulan adalah teman sebangkuku. Dia memang tidak membelinya, tapi dia kemudian memberi tahu orang yang duduk dibangku depan kami bahwa aku menjual pensil itu.

Tak disangka, dia langsung beli empat! Saat itu memang ada empat warna cover pensil yang berbeda dan ia beli satu disetiap warnanya. Aku beruntung saat itu berada dilingkungan dengan teman-teman yang kepo dan konsumtif.

Tak butuh waktu lama pensil yang aku bawa habis terjual, dan masih ada yang mau beli lagi. Tapi lagi-lagi aku membuat kesalahan, saat itu aku hanya berkata bahwa pensilku sudah habis. Dan akhirnya banyak yang kecewa.

Kemudian beberapa hari setelahnya, aku membeli pensil lagi di pasar yang lumayan banyak untuk dijual lagi. Seperti biasa esoknya aku datang ke sekolah dengan kotak pensil yang sudah berisi barang dagangan. Aku memberi tahu teman-temanku bahwa pensilnya sudah ada lagi.

Namun, yang ada dipikiran mereka sayangnya berbeda, pensilku tiba-tiba tidak ada yang mau beli lagi, lapakku sepi pengunjung. Beberapa hari setelahnya aku mendengar sindiran, dia bilang “Ada yang jualan pensil, dia bilang pensilnya habis padahal masih banyak ditempat pensilnya.”.

Ya mungkin itu hanya anggapanku, tak ada perasaan dendam, cuma nyesel aja sih udah beli pensil lagi, uangnya kan lumayan bisa buat beli gorengan.

Udah ah segitu dulu aja. Jadi gimana? Semudah dan sesimpel itu kan? Mungkin itu hanya cerita kecil sih dan gak ada apa-apanya dengan pengalaman-pengalaman pebisnis besar diluaran sana.

Tapi aku yakin kok intinya sama. Kalau kita pantang menyerah dan percaya akan kemampuan kita, semua akan terasa mudah. Ya walaupun nantinya pasti ada masalah yang akan datang, sesungguhnya itu hanya ajang untuk kita supaya bisa belajar lebih banyak. Semoga bermanfaat ^^

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *